Aksi Kamisan ke-898 Surabaya di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Kamis (19/2/2026). Orasi demi orasi mereka lakukan. Suara mereka terus teresonansi, meski terkadang dilahap bisingnya laju kencang kendaraan yang lalu lalang. Hal ini dilakukan sebagai ikhtiar memperjuangkan hak-hak yang selama ini dikebiri oleh kekuasaan.
"Aksi ini dilakukan sebagai bagian dari melawan impunitas. Bahwa peristiwa-peristiwa yang terjadi tidak sirna begitu saja. Mengadili para pelaku kejahatan HAM dan memberikan keadilan bagi para korban adalah sebuah keharusan," ujar Gading Ola, Korlap Aksi Kamisan.
Tidak hanya menyerukan tragedi kemanusiaan dalam negeri. Massa Aksi Kamisan juga menyoroti langkah yang diambil Presiden Prabowo Subianto ketika bergabung dalam barisan Board of Peace (BoP) bentukan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Dengan klaim menciptakan perdamaian di tanah Palestina, Indonesia rela mengekor ke geng yang mensponsori dan melakukan genosida terhadap rakyat Palestina.
Hal itu, menuai kecaman di mata rakyat Indonesia, karena berbanding terbalik dengan amanat UUD 1945. Di mana isinya menghapuskan penjajahan di atas dunia dan ikut menjaga perdamaian dunia. Alih-alih ikut menentang genosida yang terjadi di Palestina, siasat jahat ini mempertegas kepentingan Prabowo semata dan mengabaikan penderitaan rakyat Palestina.
"Gabungnya Indonesia dalam Board of Peace ini mencederai amanat UUD 1945. Ini sama saja mendukung genosida di tanah Palestina," tandas salah satu orator aksi.
Untuk bergabung dengan BoP, Indonesia wajib menyetorkan dana Rp17 triliun. Ini melukai perasaan masyarakat, karena masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan negera. Di antaranya, mengentas kemiskinan, memberikan kesejahteraan, dan menciptakan lapangan pekerjaan. Masih teringat seorang anak SD di Ngada, NTT, bunuh diri karena kemiskinan yang dialami keluarganya.

Massa aksi juga menyampaikan 12 tuntutan, salah satunya mencabut pemberian gelar pahlawan nasional kepada Soeharto yang merupakan aktor serangkaian peristiwa kelam yang merenggut nyawa pada era Orde Baru. Menurut mereka, bagaimana mungkin negara akan meneladani perilaku Soeharto dengan riwayat pelanggaran HAM berat?
Aksi Kamisan bukan sekadar menggugurkan tanggung jawab untuk berdiri dan membentangkan poster saja di setiap Kamis sore. Jauh dari pada itu, aksi ini bertujuan untuk merawat ingatan kolektif atas peristiwa berdarah yang pernah terjadi. Sehingga tragedi yang telah berlalu tidak pupus dimakan waktu. Ya, tetap tumbuh dan berlipat ganda, seperti penggalan syair Widji Thukul, "Aku akan tetap ada dan berlipat ganda".